![]() |
| sumber: via gratisography.com |
Globalisasi saat ini memang tidak bisa dihindari. Kita tidak lagi hidup di zaman dimana untuk bisa bepergian hanya berjalan kaki atau menggunakan tenaga hewan. Sekarang semua begitu mudahnya untuk beraktifitas dan mobilitas juga semakin meningkat. Semakin majunya zaman ini juga diiringi dengan kecanggihan-kecanggihan yang mungkin jika nenek moyang kita masih hidup akan sangat tercengang dengan pencapaian yang kita dapatkan. Kecanngihan teknologi membuat manusia perlahan-lahan bangkit dan berlomba-lomba untuk bisa menikmati teknologi yang ada dan menjadi modern.
Menjadi modern memang nampaknya sudah menjadi keharusan, namun kadangkala ada ketimpangan yang terjadi dengan memahami moderenitas. Karena semua sudah mendunia dan global kita bisa tahu trend yang sedang terjadi di belahan dunia manapun, baik dari kebiasaan, pakaian dan juga gaya hidup, tidak ada lagi jurang pemisah yang berarti untuk bisa memahami moderenitas saat ini. Yang menjadi sebuah dilema ketika perlahan moderen yang kita anut itu ternyata perlahan menggerus nilai-nilai kehidupan kita, identitas kita, maupun identitas sebuah bangsa.
Kita bisa melihat bagaimana dahsyatnya kecanggihan teknologi bisa mengubah kebudayaan dan kehidupan suatu bangsa.
Indonesia, know it and love it!
![]() |
| amazing culture via emaze.com |
Tidak usah jauh-jauh untuk mengambil contoh, kita sebut saja negeri kita tercinta, Indonesia sebagai salah satu bangsa yang mungkin bisa tergerus oleh arus moderenitas. Tidak heran jika para investor khususnya gadget dan lainnya bisa tumbuh subur di negeri kita ibaratnya jamur di musim hujan. Tidak heran pula negara kita menjadi salah satu negara paling konsumtif di dunia. Apapun yang dijajakan di Indonesia pasti semuanya laku. Mulai dari produk HP, pakaian, elektronik, properti dan sebagainya semuanya laku terjual. Di luar negeri kita juga sangat gemar berbelanja oleh-oleh, tidak mengherankan jika di luar negeri banyak pedagang yang bisa berbahasa Indonesia. Lalu apakah kita pantas berbangga dengan semua kenyataan di atas? Menurut pandangan saya, tidak seharusnya kita termakan mentah-mentah apa yang dunia dan bangsa asing tawarkan kepada kita. Ibaratnya kita tidak tahu nilai-nilai apa yang mereka bawa dengan kehadiran sebuah produk atau apapun itu. Mungkin saking enaknya kita tenggelam dan dimanajakan dengan apa yang ada, sehingga bisa-bisanya melupakan jati diri kita identitas kita bahwa kebudayaan kita.
Mengikuti arus bukan berarti harus kehilangan ciri khas kan?
![]() |
| memilih jalan sendiri itu penting via gratisography.com |
Bangsa Indonesia bisa saja menjadi runtuh karena terlalu banyaknya campur tangan akan bangsa lain. Kita bisa saja kehilangan arah saat masalah menerpa dikarenakan kita sudah tidak berpegangan lagi pada nilai-nilai yang telah diajarkan dan ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Sejak dulu kita ditinggalkan nilai-nilai kegotong-royongan, keramahan dan keberagaman. Saat ini kita dengan jelasnya bisa melihat bangsa kita sendiri berada di era kebingungan dan cultural shock. Nilai-nilai gotong royong dan lainnya seakan perlahan mulai menghilang tergantikan oleh nilai individualitas dan kompetitif yang menjadi ciri era modern.
Identitas diri sangat penting, ibaratnya sebuah tanda pengenal akan suatu bangsa maupun pribadi. Apa jadinya jika kita menjadi orang atau bangsa kebanyakan, tidak bisa dibedakan hanya karena krisis akan identitasnya. Apakah kita tidak bisa berkiblat ke negara Asia lainnya seperti Jepang yang terkenal dengan manga,anime,costplay dan budaya kerja kerasnya, sedangkan Korea Selatan terkenal dengan dramanya, musik dan fashion. Jika hanya menyebut nama negaranya kita bisa menyebutkan ciri khasnya berarti suatu negara sudah sukses menciptkan identitasna sendiri. Bagaimana dengan Indonesia? Hmm..orang masih bingung Indonesia? What kind place of it?
Tentunya kita tidak terima ketika selalu disama-samakan dengan orang lain, atau disamakan dengan bangsa lain, misalnya disamakan dengan negara Malaysia. Sebagian besar kita sadar akan hal itu, namun bodohnya tidak menyadari identitas kita juga perlahan memudar.
Kalian bisa lihat iklan Malaysia berikut, mirip Indonesia. Lalu ciri khas kita dimana?
Ini hanya sebagian kecil contoh bahwa identitas itu berkaian erat dengan bagaimana kita akan dikenal, jangan sampai nilai-nilai budaya kita kehilangan arah dan bangsa kita tidak mengenali "wajahnya sendiri". Mungkin lewat tulisan ini bisa menjadi refleksi bagi diri kita dan semua pihak bahwa memang menciptkan sebuah identitas dan citra itu sangatlah keras, bukan bagaimana bentuk identitas itu tetapi lebih ke arah bagaimana kita mampu konsisten dalam mewujudkannya. Mewujudkan cita-cita bangsa kita untuk bisa dikenal dan juga diakui di dunia, menjadi moderen dan canggih tetapi tetap memiliki warna Indonesia mungkin itulah yang akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat. Tapi sebuah perubahan besar tidak akan tercipta jika tidak diawali dengan langkah yang kecil, misalnya dalam bentuk tulisan oleh karenanya semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan ikut memeriahkan ajang IMAJINESIA untuk Indonesia yang lebih maju.
Think global, local act. Mulailah perkenalkan identitas bangsa dalam sebuah tulisan sederhana.
#InspirasiIndonesia #IMAJINESIA dan #TMMINspirasi




Tidak ada komentar:
Posting Komentar