Sekantung Impian dan Sekaleng Harapan
Oleh: Ika Suarsi
Azan subuh menggema, pertanda
fajar akan segera tiba. Alunan takbir bergema memanjatkan sembahnya kepada yang
Kuasa. Tatkala angin berhembus dengan lembut, singgah di jendela yang menganga
lebar nan berjamur.Sebuah tubuh nampak tergolek di atas kasur nan empuk,sangat
menikmati tidur lelapnya. Hembusan angin
subuh datang menyusup melewati pori-pori tembok dan jendela yang menjelma bagaikan jarum yang seakan menusuk tulang-tulangnya hingga, ia tak
tahan lagi,tidur lelapnya tersentak ia lalu perlahan membuka dan menyongsong tubuhnya serta mengoordinasikan
saraf-saraf kesadarannya untuk bangkit di pagi buta itu. Lalu dengan pikiran
yang masih di alam mimpi ia memaksakan diri
untuk bangun karena sekilas suara-suara tadi yang membangunkannya.
Dengan malas ia menguncir rambut yang terurai itu. Lalu bangkit dan segera
berwudhu untuk Ilahi.
Setelahnya, ia berdiri lalu
bercermin mengusap wajahnya yang nampak sangat kurang tidur. Lalu berpaling
memikirkan sesuatu. Dengan perlahan, kursi ditariknya lalu tangan itu mencari
satu persatu buku yang tersusun dihadapannya, ia tersenyum simpul saat
menemukan sesuatu yang dicari-carinya itu. Nampak sebuah buku tulis bersampul
putih ia raih dan mulai membukanya. Beberapa menit kemudian ia nampak berusaha
mengerjakan sesuatu dari buku tersebut, berulang kali ia membolak balik buku
dan nampak berpikir keras. Iya,baginya ia harus menyelesaikannya hari itu juga.
Baginya tugas adalah segalanya, gurunya tidak ingin menerima alasan-alasan
karena tidak mengerjakan tugasnya. Ya , dia adalah seorang pelajar, pelajar
yang senang berkutat dengan tugas-tugas disekolahnya,ciri khas anak pelajar.
Baginya, jika dia tidak menolong dirinya sendiri maka tidak ada yang bisa
menolongnya, teman-teman sekelas juga berkutat dengan hal yang sama dengan
dirinya. Sedikit demi sedikit ia menulis lagi lalu berfikir dan menulis lagi.
Yah sampai rasa kepuasaan nampak
diwajahnya yang sumringah itu. Dia
berkata,
”Yes.. sudah jadi rupanya ah
tidak sia-sia saya bangun subuh”
Setelahnya, ia membereskan
semua buku-buku yang dijadikannya referensi ,lalu melirik jam weker dengan ekor
matanya, waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat limabelas menit. Ia lalu bergegas mengambil handuk dan berjalan ke
kamar mandi. Beberapa menit kemudian,Ia lalu mengeringkan badan lalu
mengambil sepotong baju berwarna biru.
Yah, hari itu hari Jumat dimana sekolahnya menerapkan peraturan untuk memakai
seragam batik,ia tidak ingin jika satpam sekolah menahannya di pintu gerbang
lalu mulai menginterogasinya, ia berfikir hal itu sangat konyol untuk orang
seperti dia. Lalu dengan tenang ia mengenakan batik itu tanpa embel apa-apa
dipasangkan dengan kerudung dan selesai. Setelah semua selesai ia berjalan ke
arah meja makan yang nampaknya sudah tersaji nasi goreng disertai dengan
kerupuk kesukaannya, yah baginya dia sangat beruntung karena ibunya yang bisa
memanjakannya dengan makanan kesukaannya. Lalu setelah berpamitan ia lalu
berangkat, baginya waktu masih pagi untuk bisa menunggu angkutan umum. Dia atas
mobil ia nampak meraba sesuatu di kantong bajunya, benda berwarna putih ya,
flashdisk yang berisi tugas-tugas sekolahnya. Beberapa menit kemudian, ia lalu
turun dipersimpangan jalan, sekali lagi sekolahnya itu memiliki peraturan yang
tegas, melarang siswa-sisiwinya diantar terlalu dekat dengan sekolah, alasannya
yah katanya untuk mengurangi kemacetan.
Pagi itu seperti biasa petugas
kepolisian berjaga di depan sekolahnya, maklum saja sekolah yang terletak di
pinggir jalan sangat ramai di pagi hari sehingga dibutuhkan beberapa personil
untuk menjaga lalu lintas dipagi itu. Diantara kerumunan itu muncullah seorang
siswi yang nampak berlarian menghampirinya dan berkata
“Dine..tugasmu sudah selesai?”
Nadina menjawab”Sudah dong”, kamu?
“Aduh, belum ini, susah cari
inspirasinya”
Nadina, hanya tersenyum melihat ekspresi
temannya yang satu itu. Temannya itu bernama Karis, teman sebangkunya sejak
kelas XI lalu. Baginya, bersama Karis dua tahun
ini sudah cukup untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka pun berdua berjalan
memasuki sekolah nan besar itu, bergabung dengan biru abu abu lainnya. Sambil
bercanda keduanya terus berjalan, kelas mereka terletak di lantai dua,setelah
menaiki tangga keduanya lalu masuk kelas, depan kelas terpampang sebuah papan
nama, bertuliskan XII IA II,yang berarti
mereka berdua adalah siswi kelas tiga. Keadaan pagi itu cukup biasa,
tidak ada yang berubah seperti biasa, teman-teman mereka lalu lalang sibuk
mengerjakan tugas, ada yang mencoba untuk menghafal, mengerjakan soal-soal, ada
yang mengetik, ada juga yang melamun antah berantah. Bagi Nadina, keadaan itu
cukup menghibur, mengapa tidak melihat teman-teman yang panik dan galau cukup
membuatnya melupakan tugas-tugas yang menumpuk sejenak. Iya, siswi yang senang
itu bernama Nadina, siswi kelas tiga ipa dua. Nadina, tahu dia hanya siswi yang
biasa saja, otak pas-pas an ,wajah pas-pasan dan dari keluarga yang sederhana,
baginya cukup mengikuti arus sudah bisa membuatnya bertahan di sekolah itu. Ia
lalu, keluar kelas mencoba untuk mencari angin segar, untungnya pagi itu cuaca
mendung, hal yang paling disukai oleh Nadina, lambaian dedaunan dan semilir
angin cukup diresapi Nadine, cukup menerbangkan semua keluh kesahnya di kelas.
Ia
melirik jam tangannya, ya lima belas menit lagi pelajaran akan segera dimulai,
ia tidak bisa membayangkan bagaimana saat gurunya memeriksa tugasnya hari itu,
tugas yang cukup membuat deg degan, bagaimana tidak, tugas membuat puisi kali
ini adalah karangan sendiri. Bagi Nadine bukan tugas itu yang meresahkannya,
tetapi ada hal yang lain,sembari berfikir seorang siswa menepuk pundaknya dari
belakang berkata,
“Hei..sudah siap ulangan Matematika
belum?” dengan cengengesan Nadina menjawab,
“Ha ha..i’ve tried but um it really hard to
me.”, dengan bahasa Inggris yang terdengar cukup fasih namun pas-pasan.
Keduanya lalu bercerita, baginya Masir adalah siswa yang sama dengan dirinya,
sangat terjanggal dengan pelajaran yang satu ini, Matematika. Beberapa menit
kemudian, bel berbunyi, tandanya pealajaran akan segera dimulai. Ia dan Masir
segera memasuki kelas, jika tiba waktu bel berbunyi semua siswa berhamburan
masuk kelas. Ia melangkah gontai ke bangkunya, teman-temannya pun bertanya
tentang tema puisi yang ia buat, dan menjawab singkat,
“Tidak, puisinya biasa saja, saya
persembahkan untuk kalian saja”.
Bergantian teman-teman membaca
puisi Nadina, termasuk Karis. Katanya bagus, banyak majasnya, punya Karis
sendiri bertemakan Ayah . Tak lama
berselang muncullah sosok yang ditunggu, ya guru bahasa Indonesia Nadina sudah
datang, hari itu dia akan membacakan puisi hasil mereka sendiri di depan kelas. Setelah membaca do’a,
mereka pun masing-masing mulai memegang kertas puisi dengan tegang, berharap ibu guru berkata ,
“Baiklah anak-anak sekalian tugasnya dikumpul
saja tidak usah dibaca,kita lanjut materi saja” , namun tugas tetap saja menjadi tugas. Ibu guru
memutuskan untuk nama mereka satu persatu untuk maju di depan kelas. Semuanya
tegang, namun ada yang tetap santai dan tenang, salah satunya Nadina, ia hanya
diam melihat puisinya sesekali mengulang-ulang lirik yang dibacanya walaupun
hanya dia yang mengetahuinya. Penampilan pertama cukup bagus, selanjutnya sama
saja, Nadine Bergeming, keraguan muncul dalam dirinya, apakah penampilannya
sebentar akan bagus atau tidak. Semabri berfikir, seorang teman bernama Ansyah
membacakan puisinya, puisi yang dibawakan cukup segar dengan bumbu-bumbu humor
yang diselipkan,cukup mewakili sis humornya, ya Ansyah memang dikenal suka
bercanda lewat tulisan-tulisan tangannya. Tak lama berselang, nama Nadina pun
disebut, teman-teman bersorak. Nadine dengan tenang membacakan puisinya,
keraguan itu muncul meresap bersama suara dari setiap lirik yang dibacakannya.
Setelah selesai, ia lalu menyerahkan kertas kepada gurunya, dan kembali pulang
ke tempat duduk, Nadina mengumpat dirinya sendiri yang tidak bisa maksimal
dengan penampilannya kali itu, ia menganngapa bahwa penampilannya kali itu
tergolong biasa saja. Tetapi Nadina tersenyum sembari berkata dalam hati,
“Ah gadis biasa-biasa puaslah dengan
penampilanmu itu, kau pantas mendapatkannya”, ya Nadine hanya berharap bahwa
dengan mengikuti arus dia bisa bertahan dam mewujudkan cita-cita. Dikelas ini,
ia menggantung banyak impian dengan harapan yang besar. Kelak dengan dirinya yang
biasa saja ia bisa menaklukkan dunia,ya asa yang membuat Nadina tersenyum jika
memikirkannya. Di kelas ini pula, ia berharap kelak masa depannya akan cerah
dan tidak lagi biasa. Nadine tersenyum sendir. Bunyi bel pertanda jam pelajaran
telah berakhir, sontak membangunkan nadi dari bukit mimpinya sendiri. Bel
pelajaran telah selesai, Nadina melalui hari itu dengan harapan yang tinggi dan
berkutat dalam sosok yang biasa-biasa saja. Nadina melangkahkan kakinya yang
gontai untuk pulang ke rumah, rumah dimana dia akan memulai lagi aktifitasnya
sebgai pelajar, berkutat dengan tugas sambil bermimpi meraih sekantung impian
dan melepas sekaleng harapan.
***TAMAT***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar