Selasa, 26 April 2016

A Pocket of Dream and A Can of Expectation

Sekantung Impian dan Sekaleng Harapan
Oleh: Ika Suarsi
Azan subuh menggema, pertanda fajar akan segera tiba. Alunan takbir bergema memanjatkan sembahnya kepada yang Kuasa. Tatkala angin berhembus dengan lembut, singgah di jendela yang menganga lebar nan berjamur.Sebuah tubuh nampak  tergolek di atas kasur nan empuk,sangat menikmati tidur lelapnya.  Hembusan angin subuh datang menyusup melewati pori-pori tembok dan jendela  yang menjelma bagaikan jarum yang  seakan menusuk tulang-tulangnya hingga, ia tak tahan lagi,tidur lelapnya tersentak ia lalu perlahan membuka  dan menyongsong tubuhnya serta mengoordinasikan saraf-saraf kesadarannya untuk bangkit di pagi buta itu. Lalu dengan pikiran yang masih di alam mimpi ia memaksakan diri  untuk bangun karena sekilas suara-suara tadi yang membangunkannya. Dengan malas ia menguncir rambut yang terurai itu. Lalu bangkit dan segera berwudhu untuk Ilahi.  
Setelahnya, ia berdiri lalu bercermin mengusap wajahnya yang nampak sangat kurang tidur. Lalu berpaling memikirkan sesuatu. Dengan perlahan, kursi ditariknya lalu tangan itu mencari satu persatu buku yang tersusun dihadapannya, ia tersenyum simpul saat menemukan sesuatu yang dicari-carinya itu. Nampak sebuah buku tulis bersampul putih ia raih dan mulai membukanya. Beberapa menit kemudian ia nampak berusaha mengerjakan sesuatu dari buku tersebut, berulang kali ia membolak balik buku dan nampak berpikir keras. Iya,baginya ia harus menyelesaikannya hari itu juga. Baginya tugas adalah segalanya, gurunya tidak ingin menerima alasan-alasan karena tidak mengerjakan tugasnya. Ya , dia adalah seorang pelajar, pelajar yang senang berkutat dengan tugas-tugas disekolahnya,ciri khas anak pelajar. Baginya, jika dia tidak menolong dirinya sendiri maka tidak ada yang bisa menolongnya, teman-teman sekelas juga berkutat dengan hal yang sama dengan dirinya. Sedikit demi sedikit ia menulis lagi lalu berfikir dan menulis lagi. Yah sampai rasa  kepuasaan nampak diwajahnya yang sumringah itu.  Dia berkata,
”Yes.. sudah jadi rupanya ah tidak sia-sia saya bangun subuh”
Setelahnya, ia membereskan semua buku-buku yang dijadikannya referensi ,lalu melirik jam weker dengan ekor matanya, waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat limabelas menit. Ia lalu  bergegas mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian,Ia lalu mengeringkan badan lalu mengambil  sepotong baju berwarna biru. Yah, hari itu hari Jumat dimana sekolahnya menerapkan peraturan untuk memakai seragam batik,ia tidak ingin jika satpam sekolah menahannya di pintu gerbang lalu mulai menginterogasinya, ia berfikir hal itu sangat konyol untuk orang seperti dia. Lalu dengan tenang ia mengenakan batik itu tanpa embel apa-apa dipasangkan dengan kerudung dan selesai. Setelah semua selesai ia berjalan ke arah meja makan yang nampaknya sudah tersaji nasi goreng disertai dengan kerupuk kesukaannya, yah baginya dia sangat beruntung karena ibunya yang bisa memanjakannya dengan makanan kesukaannya. Lalu setelah berpamitan ia lalu berangkat, baginya waktu masih pagi untuk bisa menunggu angkutan umum. Dia atas mobil ia nampak meraba sesuatu di kantong bajunya, benda berwarna putih ya, flashdisk yang berisi tugas-tugas sekolahnya. Beberapa menit kemudian, ia lalu turun dipersimpangan jalan, sekali lagi sekolahnya itu memiliki peraturan yang tegas, melarang siswa-sisiwinya diantar terlalu dekat dengan sekolah, alasannya yah katanya untuk mengurangi kemacetan.
Pagi itu seperti biasa petugas kepolisian berjaga di depan sekolahnya, maklum saja sekolah yang terletak di pinggir jalan sangat ramai di pagi hari sehingga dibutuhkan beberapa personil untuk menjaga lalu lintas dipagi itu. Diantara kerumunan itu muncullah seorang siswi yang nampak berlarian menghampirinya dan berkata
“Dine..tugasmu sudah selesai?”
Nadina menjawab”Sudah dong”, kamu?
“Aduh, belum ini, susah cari inspirasinya”
Nadina, hanya tersenyum melihat ekspresi temannya yang satu itu. Temannya itu bernama Karis, teman sebangkunya sejak kelas XI lalu. Baginya, bersama Karis dua tahun  ini sudah cukup untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka pun berdua berjalan memasuki sekolah nan besar itu, bergabung dengan biru abu abu lainnya. Sambil bercanda keduanya terus berjalan, kelas mereka terletak di lantai dua,setelah menaiki tangga keduanya lalu masuk kelas, depan kelas terpampang sebuah papan nama, bertuliskan XII IA II,yang berarti  mereka berdua adalah siswi kelas tiga. Keadaan pagi itu cukup biasa, tidak ada yang berubah seperti biasa, teman-teman mereka lalu lalang sibuk mengerjakan tugas, ada yang mencoba untuk menghafal, mengerjakan soal-soal, ada yang mengetik, ada juga yang melamun antah berantah. Bagi Nadina, keadaan itu cukup menghibur, mengapa tidak melihat teman-teman yang panik dan galau cukup membuatnya melupakan tugas-tugas yang menumpuk sejenak. Iya, siswi yang senang itu bernama Nadina, siswi kelas tiga ipa dua. Nadina, tahu dia hanya siswi yang biasa saja, otak pas-pas an ,wajah pas-pasan dan dari keluarga yang sederhana, baginya cukup mengikuti arus sudah bisa membuatnya bertahan di sekolah itu. Ia lalu, keluar kelas mencoba untuk mencari angin segar, untungnya pagi itu cuaca mendung, hal yang paling disukai oleh Nadina, lambaian dedaunan dan semilir angin cukup diresapi Nadine, cukup menerbangkan semua keluh kesahnya di kelas.
            Ia melirik jam tangannya, ya lima belas menit lagi pelajaran akan segera dimulai, ia tidak bisa membayangkan bagaimana saat gurunya memeriksa tugasnya hari itu, tugas yang cukup membuat deg degan, bagaimana tidak, tugas membuat puisi kali ini adalah karangan sendiri. Bagi Nadine bukan tugas itu yang meresahkannya, tetapi ada hal yang lain,sembari berfikir seorang siswa menepuk pundaknya dari belakang berkata,
“Hei..sudah siap ulangan Matematika belum?” dengan cengengesan Nadina menjawab,
 “Ha ha..i’ve tried but um it really hard to me.”, dengan bahasa Inggris yang terdengar cukup fasih namun pas-pasan. Keduanya lalu bercerita, baginya Masir adalah siswa yang sama dengan dirinya, sangat terjanggal dengan pelajaran yang satu ini, Matematika. Beberapa menit kemudian, bel berbunyi, tandanya pealajaran akan segera dimulai. Ia dan Masir segera memasuki kelas, jika tiba waktu bel berbunyi semua siswa berhamburan masuk kelas. Ia melangkah gontai ke bangkunya, teman-temannya pun bertanya tentang tema puisi yang ia buat, dan menjawab singkat,
“Tidak, puisinya biasa saja, saya persembahkan untuk kalian saja”.
Bergantian teman-teman membaca puisi Nadina, termasuk Karis. Katanya bagus, banyak majasnya, punya Karis sendiri bertemakan Ayah . Tak lama berselang muncullah sosok yang ditunggu, ya guru bahasa Indonesia Nadina sudah datang, hari itu dia akan membacakan puisi hasil mereka  sendiri di depan kelas. Setelah membaca do’a, mereka pun masing-masing mulai memegang kertas puisi  dengan tegang, berharap ibu guru berkata ,
“Baiklah anak-anak sekalian tugasnya dikumpul saja tidak usah dibaca,kita lanjut materi saja” , namun  tugas tetap saja menjadi tugas. Ibu guru memutuskan untuk nama mereka satu persatu untuk maju di depan kelas. Semuanya tegang, namun ada yang tetap santai dan tenang, salah satunya Nadina, ia hanya diam melihat puisinya sesekali mengulang-ulang lirik yang dibacanya walaupun hanya dia yang mengetahuinya. Penampilan pertama cukup bagus, selanjutnya sama saja, Nadine Bergeming, keraguan muncul dalam dirinya, apakah penampilannya sebentar akan bagus atau tidak. Semabri berfikir, seorang teman bernama Ansyah membacakan puisinya, puisi yang dibawakan cukup segar dengan bumbu-bumbu humor yang diselipkan,cukup mewakili sis humornya, ya Ansyah memang dikenal suka bercanda lewat tulisan-tulisan tangannya. Tak lama berselang, nama Nadina pun disebut, teman-teman bersorak. Nadine dengan tenang membacakan puisinya, keraguan itu muncul meresap bersama suara dari setiap lirik yang dibacakannya. Setelah selesai, ia lalu menyerahkan kertas kepada gurunya, dan kembali pulang ke tempat duduk, Nadina mengumpat dirinya sendiri yang tidak bisa maksimal dengan penampilannya kali itu, ia menganngapa bahwa penampilannya kali itu tergolong biasa saja. Tetapi Nadina tersenyum sembari berkata dalam hati,
“Ah gadis biasa-biasa puaslah dengan penampilanmu itu, kau pantas mendapatkannya”, ya Nadine hanya berharap bahwa dengan mengikuti arus dia bisa bertahan dam mewujudkan cita-cita. Dikelas ini, ia menggantung banyak impian dengan harapan yang besar. Kelak dengan dirinya yang biasa saja ia bisa menaklukkan dunia,ya asa yang membuat Nadina tersenyum jika memikirkannya. Di kelas ini pula, ia berharap kelak masa depannya akan cerah dan tidak lagi biasa. Nadine tersenyum sendir. Bunyi bel pertanda jam pelajaran telah berakhir, sontak membangunkan nadi dari bukit mimpinya sendiri. Bel pelajaran telah selesai, Nadina melalui hari itu dengan harapan yang tinggi dan berkutat dalam sosok yang biasa-biasa saja. Nadina melangkahkan kakinya yang gontai untuk pulang ke rumah, rumah dimana dia akan memulai lagi aktifitasnya sebgai pelajar, berkutat dengan tugas sambil bermimpi meraih sekantung impian dan melepas sekaleng harapan.
***TAMAT***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar